Have so much fun in MI class !

Kemaren hari pertama kuliah di semester 4, rasanya biasa aja, aku malah ribet nyariin dimana kalkulator nyelip, dimana kotak pensil kira-kira berada, belom beli kertas, ga punya buku kosong, pergi kuliah cuma bawa diri sama dompet plus handphone tok.
Maklumlah, udah sering mengalami yang namanya semester baru, jadi euforianya ga sebesar pas masih TK dulu yang semua-muanya pasti serba baru, kalo perlu TK nya juga baru setiap semester, hahaha !
Mata kuliah hari pertama itu Manajemen Investasi. Yaaa, udah tau lah pasti ya begitu denger kata "investasi", pasti kita langsung kebayang yang namanya saham, pasar modal, broker, dan lain-lain.
Nah ! Dosen di kelas ini namanya pak Galih Pendekar. Awalnya aku ngebayangin yang bakalan masuk itu bapak-bapak tipikal film tutur tinular, yang bajunya rada nyeleneh, gondrong, pake ikat kepala, kumisan sama jenggotan panjang, bawa-bawa busur panah dan naik elang.
Tapi pas dosennya masuk, voila ! sama kayak dosen-dosen kebanyakan, kemejaan, celana panjang item, nenteng laptop bukan busur panah dan istimewanya bapak ini LUCU dan hobi bercanda !
Okay, you've got one plus point pak.
Trus dia mulai nerangin apa itu investasi, apa yang seharusnya kita lakukan, gimana cara investasi yang baik, dan perangkat-perangkat yang ada di dalemnya.

Dari cerita-cerita si bapak aku jadi tau kalo ternyata bursa saham di Indonesia masih kalah jauh di banding negara-negara lain, bahkan Malaysia. Kita masih kalah jauh dibanding negara Malaysia. Ibaratnya, kalo bursa saham di Amerika itu kota metropolitan, Indonesia itu masih dusun kecil di pinggiran. Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, yang berpartisipasi dalam saham hanya 500.000 orang saja, itu bahkan belum mencapai 1% dari total jumlah penduduk Indonesia. Dan sedihnya sebagian besar yang berinvestasi di saham di Indonesia itu adalah warga negara asing. Mereka yang seyogianya tidak menetap dan gampang dalam berpindah-pindah, sangat gampang menarik saham mereka dan pindah ke negara lain apabila kondisi saham di Indonesia tidak terlalu baik, dan hal itu akan mengguncang kondisi saham di Indonesia karena mereka mempunyai bagian yang cukup besar dalam bursa saham Indonesia.

Si bapak cerita kalau ternyata di luar negeri itu yang bermain saham tidak terbatas hanya pada pengusaha atau kaum lelaki saja, bahkan ibu-ibu rumah tangga dan nenek-nenek pun ikut bermain saham. Dan kurs saham di luar negeri mempunyai pola, karena mereka mempunyai kebiasaan membeli saham pada saat baru gajian alias awal bulan.

Kurang lebih cerita-cerita dan pemahaman yang diberikan pak Galih memberikan pandangan kalau alangkah lebih baik kita sendiri sebagai warga negara Indonesia ikut berpartisipasi dalam memajukan bursa saham di negara kita sendiri.

Apa karena masalah halal dan haramnya? Saham alhamdulillah sudah mendapat label halal dari MUI, bahkan saham sekarang ada yang berbentuk syariah.

Apa karena saham itu mahal? tidak, saham tidak mahal, karena sekarang ada yang namanya "Reksadana", kita dapat membuka account di reksadana dengan uang 25 juta saja, dan bahkan setelah membuka account tersebut, uang dapat ditarik kembali. Jadi misalkan nih ya, kita cuma punya uang 1 juta saja, pinjem dulu yang 24 jutanya, buka account, 5 menit setelah create account, yang 24 juta itu bisa kita ambil lagi, sedep ga tuh? yang penting kita udah punya account dan bisa bertransaksi menggunakan account tersebut.

Apa yang bisa dilihat dari saham? keliatan juga ngga, ga bisa dipamerin. Plis deh, ini udah 2012 gitu loh, masih jaman nenteng-nenteng harta kesana kemari kayak toko emas berjalan?
Kalo dipikir-pikir, daripada uang dipake buat beli rokok, mendingan diinvestasikan dalam bentuk saham. Uang jelas lari kemana, daripada beli rokok yang cuma bakar duit, mendingan duitnya dibakar langsung, daripada buat rokok, ruginya dobel, uang kebakar, paru-paru juga ikut kebakaran. Adanya investasi di masa depan buat bayar biaya rumah sakit.
Miris rasanya kalo ngeliat orang yang bahkan beli makan ga sanggup tapi untuk rokok sanggup-sanggup aja. Ya kali cacing di perut disuruh makan asep, sisi positifnya cacing mati mabok asep, yang punya nyawa juga bisa ko'it busung lapar.

Di akhir pelajaran, kita dikasih tugas berkelompok, pura-puranya masing-masing kelompok dikasih uang 1 M dan uang sebanyak ini harus diinvestasikan ke dalam 5 saham dan 5 reksadana, terserah proporsinya mau berapa-berapa yang penting pembagiannya begitu. Nah, tugasnya buat ngawasin dan nyatet harga kurs dari saham yang udah kita beli itu, siapa yang di akhir nanti kelompoknya paling banyak dapet untung, kelompok itu yang menang. Asik kan?

Belajar berinvestasi itu fun. Doain kelompok aku yang paling tajir akhirnya ya ! Ntar kalo aku menang, satu satu aku beliin cendol, hahaha :)

Komentar

Postingan Populer