am i strong enough?
"aku liat ko itu ga pernah sedih ta, keep that"
pernyataan ini dari temen kuliahku pas kita lagi bbm-an membahas tentang betapa lebay dan cerewetnya aku sampai-sampai dia bilang aku itu kalo udah ngomong mirip "senapan angin" :))
aku pengen tau seberapa mengganggu kecerewetanku itu makanya aku nanya kira-kira kelakuan aku yang mana yang perlu di edit atau di delete dan keluarlah pernyataan diatas tadi.
sejenak, terdiam melihat barisan tulisan diatas. bukan karena apa-apa. cuma ada pertanyaan yang tiba-tiba timbul di kepala, "emang iya aku selama ini ga pernah keliatan sedih? atau jangan-jangan itu karna dia yang belum terlalu lama berteman denganku?"
tapi pernyataan diatas tidak terlalu asing lagi bagiku. banyak yang bilang begitu.
aku juga gatau kenapa. entah karna aku yang ga begitu suka mengumbar kesedihan kesana sini atau karna aku berhak menyandang predikat the most talented actress of the year.
apa iya aku ga pernah sedih? impossible, manusia mana yang ga pernah sedih seumur hidupnya? jelas aku pernah sedih. beberapa orang bilang aku pandai menyembunyikan suasana hati bahkan kalo lagi sedih. beberapa bilang aku ga terlalu memikirkan hal-hal yang bikin aku sedih atau pake kata lain "sebodo amat".
sedih itu wajar. menunjukkan ekspresi kalau kita emang lagi sedih juga bener-bener wajar.
tapi aku beda. aku ga tau kebiasaan ini awalnya dari mana, tapi yang aku tau kalau aku bener-bener sedih entah kenapa perilaku aku terbawa girang, ketawa sana sini, ga berhenti ngobrol, ketawa lagi, sampai-sampai orang pada komen, "rizta kenapa sih hari ini? girang banget?". padahal itu berarti aku lagi sedih. sedih pake banget.
sedangkan kalau aku lagi ga sedih, aku bakalan ketawa-ketawa kayak biasa, tetap cerita ngobrol sana sini, tapi derajatnya beda. tetep kerasa beda riangnya.
aku sendiri sampe sekarang masih berusaha nyari tau kenapa aku bisa begitu. entah karena dengan tawa tadi upaya badan menyembuhkan hati yang sedih, entah karna ingin menipu hati sendiri, mengatakan seakan akan "siapa yang lagi sedih? ngga, aku ngga sedih", sejenis self denial, yah aku sering self denial.
bukan pengen dibilang kuat, juga bukan karna sok kuat, aku tidak sebegitu kuat. karna dengan kesedihan yang datang ke kita, pada akhirnya menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan. kita yang memilih, mau belajar dari situ atau tetap tinggal tenggelam dalam kesedihan.
karna pada akhirnya, bukan tawa yang menjadi indikator kebahagiaan, pun bukan air mata yang menggambarkan kesedihan hati seseorang.
aku seneng kalau terlihat ga pernah sedih di depan orang. karna bahagia itu sederhana. temenku itu tadi juga bilang "ko ga boleh sedih-sedih ta". oke, i won't :)
la tahzan, innallaha ma'ana
pernyataan ini dari temen kuliahku pas kita lagi bbm-an membahas tentang betapa lebay dan cerewetnya aku sampai-sampai dia bilang aku itu kalo udah ngomong mirip "senapan angin" :))
aku pengen tau seberapa mengganggu kecerewetanku itu makanya aku nanya kira-kira kelakuan aku yang mana yang perlu di edit atau di delete dan keluarlah pernyataan diatas tadi.
sejenak, terdiam melihat barisan tulisan diatas. bukan karena apa-apa. cuma ada pertanyaan yang tiba-tiba timbul di kepala, "emang iya aku selama ini ga pernah keliatan sedih? atau jangan-jangan itu karna dia yang belum terlalu lama berteman denganku?"
tapi pernyataan diatas tidak terlalu asing lagi bagiku. banyak yang bilang begitu.
aku juga gatau kenapa. entah karna aku yang ga begitu suka mengumbar kesedihan kesana sini atau karna aku berhak menyandang predikat the most talented actress of the year.
apa iya aku ga pernah sedih? impossible, manusia mana yang ga pernah sedih seumur hidupnya? jelas aku pernah sedih. beberapa orang bilang aku pandai menyembunyikan suasana hati bahkan kalo lagi sedih. beberapa bilang aku ga terlalu memikirkan hal-hal yang bikin aku sedih atau pake kata lain "sebodo amat".
sedih itu wajar. menunjukkan ekspresi kalau kita emang lagi sedih juga bener-bener wajar.
tapi aku beda. aku ga tau kebiasaan ini awalnya dari mana, tapi yang aku tau kalau aku bener-bener sedih entah kenapa perilaku aku terbawa girang, ketawa sana sini, ga berhenti ngobrol, ketawa lagi, sampai-sampai orang pada komen, "rizta kenapa sih hari ini? girang banget?". padahal itu berarti aku lagi sedih. sedih pake banget.
sedangkan kalau aku lagi ga sedih, aku bakalan ketawa-ketawa kayak biasa, tetap cerita ngobrol sana sini, tapi derajatnya beda. tetep kerasa beda riangnya.
aku sendiri sampe sekarang masih berusaha nyari tau kenapa aku bisa begitu. entah karena dengan tawa tadi upaya badan menyembuhkan hati yang sedih, entah karna ingin menipu hati sendiri, mengatakan seakan akan "siapa yang lagi sedih? ngga, aku ngga sedih", sejenis self denial, yah aku sering self denial.
bukan pengen dibilang kuat, juga bukan karna sok kuat, aku tidak sebegitu kuat. karna dengan kesedihan yang datang ke kita, pada akhirnya menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan. kita yang memilih, mau belajar dari situ atau tetap tinggal tenggelam dalam kesedihan.
karna pada akhirnya, bukan tawa yang menjadi indikator kebahagiaan, pun bukan air mata yang menggambarkan kesedihan hati seseorang.
aku seneng kalau terlihat ga pernah sedih di depan orang. karna bahagia itu sederhana. temenku itu tadi juga bilang "ko ga boleh sedih-sedih ta". oke, i won't :)
la tahzan, innallaha ma'ana


Komentar