Bahagia Itu Sederhana
01.25 AM
Semua
orang di ruangan itu sedang tertawa. Termasuk aku. Kita semua menertawakan
boyband ala-ala yang beranggotakan tiga orang berperawakan Korea yang
menyanyikan lagu dengan lirik yang sama berulang-ulang, bahkan mungkin satu
lagu itu cuma terdiri dari satu kalimat yang itu-itu saja, seperti tipikal
lagu-lagu boyband dadakan lainnya, lirik dan makna bukanlah hal yang penting,
melainkan penampilan.
Lalu
kamu disitu, menghampiri sofa dimana aku duduk bersila memeluk bantal. Begitu
dekat di belakangku, tapi rasanya aku tidak mempunyai cukup keberanian bahkan
untuk menoleh kebelakang. Lalu kamu bergerak
ke arah depan sofa, ikut tertawa bersama. Aku memperhatikanmu dengan
seksama, menggunakan momen ini semaksimal mungkin karena tidak setiap hari aku
dapat melihatnya, senyum itu, tawa itu. Tiba-tiba saja kamu menyebut namaku
sambil menoleh ke arahku dan bertanya: ya kan? Aku yang daritadi tidak menyimak
pembicaraan dan hanya fokus melihatmu tentu saja tidak tahu apa yang sedang
kamu dan mereka bicarakan. Dengan mengerahkan kekuatan berpikir lebih cepat
daripada kecepatan suara akhirnya aku bisa mengikuti pembicaraan yang terjadi.
Oh,
jadi kamu menuduhku sebagai provokator dari acara ceng-cengan berjama’ah ini.
Kamu menyebutkan salah satu tweetku yang seingatku sudah lama sekali sebagai
bukti untuk memperkuat argumenmu di depan korban ejekan kami malam ini.
Mendadak aku tersenyum, senang mengetahui kamu masih mengingat salah satu tweet
yang sudah tenggelam diantara ribuan tweetku yang lainnya.
02.30 AM
Aku
bersandar di kap mobil sambil memandang kotak-kotak nasi yang sedang dimasukkan
kedalam jok belakang mobil-mobil. Aku mendekap kardigan abu-abu yang sedang
kupakai, udara sedikit dingin malam ini. Lalu kamu disitu, berjalan ke sebelah
tempatku bersandar. Aku memandangmu sekilas, tidak berani lama-lama. Aku takut
kamu akan memergoki binar kecil di mataku ketika melihatmu. Kamu berdiri di
sebelahku. Tanpa sadar aku bahkan menahan napas.
“sebaiknya kita membagikan nasi-nasi
ini jangan di satu tempat, belajar dari pengalaman buruk tragedi SOTR 28, bisa
jadi ada razia. Jadi sebaiknya kita membagikannya sambil lalu, ingat, jangan
ada yang adzan ya...”
Kamu
memberikan arahan pada yang lain, tapi tidak memberikan arahan padaku menuju
hatimu. Mengingat itu aku tersenyum kecil. Tetap, tidak punya cukup keberanian
untuk melihat ke samping.
04.20 AM
Tahu
bacem yang tadinya utuh sekarang menjadi potongan-potongan kecil, haaa akhirnya
tahunya bisa aku kunyah dengan mudah. Kamu disana, terlalu jauh dari tempat aku
duduk bersila, mengenakan baju merah, baju favoritku. Itu bajumu, tapi aku yang
menyukainya. Karena warnanya merah, warna favoritku, warna favorit kita lebih
tepatnya. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa sebelum waktu imsak
datang untuk menghabiskan menu sahurku, akupun kembali menyuapkan
potongan-potongan tahu tadi kedalam mulut.
Tiba-tiba
saja kamu disitu, di depanku, sambil memegang botol air mineral yang tadi aku
bawa sambil bertanya: yang ini boleh dibuka?
Dalam
hati aku berkata, bodohnya, untuk apa kamu bertanya lagi? Tentu saja boleh jika
itu kamu. Tapi pada kenyataannya aku cuma mengangguk sambil tersenyum kecil
lalu berkata dengan susah payah sambil mengunyah tahu yang entah kenapa tiba-tiba
menjadi alot mendadak: iya, gapapa, dibuka aja, emang untuk sama-sama kok.
Yang lebih
mengejutkan, sambil menenteng botol air mineral itu kamu berjalan ke arahku lalu duduk manis
disebelahku.
Aku
yang tidak menyangka kamu akan duduk disebelahku, mulai memotong-motong
potongan tahu di nasi kotak itu menjadi lebih kecil lagi. Aku tidak yakin
mulutku yang sama terkejutnya dengan otakku dapat mencerna tahu-tahu lembut
itu. Dan kamu, minum dengan santainya disebelahku.
Tidak
rela kekosongan menginterupsi kita, aku memulai pembicaraan dengan: ga nambah
lagi?
Aku
selalu mengatakan kalimat ini kalau melihatmu sedang makan atau memegang
makanan, kamu yang aku kenal itu kamu yang makannya banyak.
Kamu tertawa,
lalu tersenyum, manis sekali, menjawab: ngga, udah kenyang kok, biasanya juga
gue saur jam setengah lima.
Dan
disitu, kamu menemaniku menghabiskan santapan sahur yang agak susah ditelan,
bukan hanya karena kehadiran kamu, tetapi karena lidahku yang sedang sariawan
sehingga agak sedikit susah untuk menghabiskan menu sahur malam itu dalam waktu
cepat. Bercerita kepadaku kebiasaan sahurmu, menjelaskan kepadaku dengan sabar
mengenai syuruq dan dhuha.
Tidak
heran aku menyukaimu, bukan hanya karena bibir merah itu seperti yang pernah
ditebak temanku ketika dia menanyakan alasan kenapa aku menyukaimu. Tapi lebih
karena itu kamu. Pembicaraan mengenai syuruq dan dhuha tidak akan
semenyenangkan ini jika itu bukan kamu yang menjelaskan. Tahu dan ayam goreng
ini pasti sudah berakhir di tong sampah jika bukan karena kamu yang menemaniku
menghabiskannya. Dan subuh ini tidak akan sehangat ini jika bukan kamu yang
duduk disebelahku.


Komentar